Skip to main content

Pemuda Pagan (musyrik) itu Penyelamat Rasulullah Saw

                                                                gambar: google.com

Namanya adalah Abdullah bin Uraiqit al-Laitsi, ia adalah pemuda pagan (musyrik) yang menemani serta sebagai petunjuk jalan bagi Muhammad Saw. Kala itu Rasulullah Saw akan dikejar-kejar serta akan dibunuh oleh para pemuda Quraisy. Mekkah ketika itu sudah tidak nyaman lagi ditinggali oleh Rasulullah Saw dan para pengikutnya.
Dengan tidak nyamannya Mekkah maka Rasulullah Saw merencanakan untuk segera pindah (hijrah) ke Madinah (Yastrib). Rencana berpindahnya Rasulullah Saw dari Mekkah ke Madinah dirahasiakan karena apabila tercium kaum kafir Quraisy maka nyawa Rasulullah Saw pun akan terancam di tengah perjalanan.
Sambil menunggu perintah dari langit yang berasal dari Allah Swt maka ketika itu juga Abu Bakar al-Shiddiq menyiapkan serta menyerahkan dua ekor unta yang akan dikendarai oleh Rasulullah Saw kepada Abdullah bin Uraiqit al-Laitsi untuk dirawatnya. Abu Bakar telah mengetahui seluk beluk Abdullah bin Uraiqit al-Laitsi, dia adalah pemuda pagan (non muslim) yang dapat dipercaya karena kinerjanya sangat profesionalitas. Pemuda pagan (non Muslim) itu juga dalam bekerja atau bekerja sama tidak pernah melihat faktor latar belakang agama dengan siapa dia bekerja.
Akhirnya perintah dari Allah Swt pun tiba dan Rasulullah Saw bersama Abu Bakar dan Amr bin Fuhairah serta Abdullah bin Uraiqit al-Laitsi segera bergegas menuju ke Madinah. Jalan tikus adalah jalan alternatif yang akan dilalui oleh mereka berempat, jalan ini ditempuh supaya pihak kafir Quraisy tidak mengetahui ke mana Rasulullah Saw akan berpindah. Jalan tikus ini juga sempat melewati Tihama dekat laut merah, Abdullah bin Uraiqit al-Laitsi inilah yang mengetahui jalan tikus tersebut.
Perjalanan dilakukan Rasulullah Saw dengan cepat dan hanya sebentar saja melakukan istirahat. Jalan sepanjang 400 km pun dilalui dan akhirnya mereka berempat sampai juga di Madinah (Yastrib). Sesampainya di Madinah Rasulullah Saw bersama tiga orang tadi disambut dengan baik oleh masyarakat setempat dan Rasulullah Saw bersama Abu Bakar dan Amr sampai dengan selamat berkat penunjuk jalan tikus yaitu Abdullah bin Uraiqit al-Laitsi.
Pelajaran yang dapat dipetik dari kisah ini adalah bagaimana kita semua manusia seharusnya mampu menunjukkan profesionalitas kita dalam bekerja ataupun bekerja sama. Kita tidak perlu memandang latar belakang agama seseorang disaat kita akan bekerja sama dengan orang tersebut. Menurut Abu bakar bahwa Abdullah bin Uraiqit al-Laitsi ini adalah orang yang amanah (walaupun dia bukan islam).
Diakhir cerita Rasulullah Saw yang berhijrah ke Madinah ini juga kemudian tidak lantas Rasulullah Saw mengajak Abdullah bin Uraiqit al-Laitsi untuk pindah agama ke Islam. Rasulullah Saw pun dengan penuh percaya tanpa suudzon kepada Abdullah bin Uraiqit al-Laitsi mempercayakan perjalanan tersebut yang penuh rasa was-was karena kaum kafir Quraisy yang siap menyerang kapanpun itu.
Rasulullah Saw pun pernah memberikan pesan bahwa “ambillah kebaikan dari manapun munculnya”, dan Rasulullah Saw pun memberikan contoh yang nyata dengan mengambil kebaikan dari Abdullah bin Uraiqit al-Laitsi (pemuda pagan) yang bukan beragama Islam justru untuk menyelamatkan misi terpenting sepanjang sejarah Islam.

Oleh : Ragil Anggara

Cerita ini diambil dari buku “Islam Mengasihi Bukan membenci”
Karya : Nurul H. Maarif


Comments