Skip to main content

Memisahkan Politik dan Agama

                                          sumber gambar: google.com

Pilkada DKI Jakarta adalah contoh di mana seharusnya para elit politik, para aparatur negara serta para pemimpin agama menberikan pendidikan politik yang baik dan benar. Isu-isu agama, ras dan suku jangan sampai dipakai untuk menggiring opini politik masyarakat yang ujung-ujungnya akan memberikan dampak negatif contohnya permusuhan antar warga atau bahkan yang paling mengerikan adalah perpecahan negara. Jangan sampai Indonesia menjadi senasib dengan negara-negara yang penuh konflik seperti di Suriah.

Indonesia bukan negara yang hanya dimiliki oleh satu agama saja namun Indonesia mengakui enam agama resmi yaitu Islam, Kristen, Katolik, Hindhu, Buddha dan Konghucu. Sidang BPUPKI untuk merumuskan dasar negara juga wajib selalu diingat karena dalam enam puluh tujuh anggotanya empat diantaranya adalah warga keturunan tionghoa bahkan ketua panitia kala itu yaitu Rajiman Widyodiningrat merupakan seseorang penganut sebuah kepercayaan tertentu. Ini yang kemudian mampu dijadikan contoh toleransi dalam kehidupan.

Jika ada yang mengatakan bahwa politik itu kotor atau politik itu keruh, maka sebaiknya agama datang untuk membantu bagaimana supaya politik menjadi bersih bahkan menjadi jernih dari nafsu-nafsu atas nama kekuasaan. Contoh seseorang yang telah wafat saat hidup dia mencoblos paslon yang agamanya berbeda maka kemudian mayat tersebut tidak disolatkan, ini sangat miris karena tindakan ini tidak diajarkan dalam Islam dan ini menandakan ada yang salah dalam berpolitik.

Belajar dari berdirinya bangsa Indonesia, para pendiri bangsa tidak mencampuradukkan urusan agama dengan politik, jika memang agama perlu terjun dalam politik maka semestinya terdapat jarak karena peran agama dalam politik adalah sebagai penjaga moral dalam berpolitik. Agama boleh digunakan dalam berpolitik sebagai contoh misalkan kampanyekan “jangan memilih pemimpin yang korupsi” dalam slogan tersebut terdapat substansi agama yang baik dan agama juga bisa berperan mengontrol opini masyarakat yang nantinya akan menggunakan hak suaranya.

Maka sikap yang seharusnya dilakukan oleh masyarakat adalah untuk selalu belajar dan mencari sumber pengetahuan yang dapat dipercaya seperti pesan Nabi Saw bahwa belajarlah sampai ke China, serta belajarlah selalu sampai liang lahat. Semoga ini bisa menjadi pengingat bahwa introspeksi diri sangat penting dilakukan setiap saat.

oleh: Ragil Anggara



Comments