Skip to main content

Apakah Nabi Muhammad Saw Pernah Mengkafirkan Kaumnya Sendiri?

sumber gambar: google.com

akhir-akhir ini memang banyak sekali kejadian di mana seorang yang sama imannya malah saling mengkafirkan. jika zaman dahulu mengkafirkan hanya sebatas beda agama namun dizaman sekarang sesama penganut agamapun (contoh:islam) yang beda pemikirian atau juga bisa beda tafsir tentang suatu ayat atau kejadian dianggap salah.

salah satu yang perlu dikaji ulang adalah tentang perihal taklid buta. apa yang disebut dengan taklid buta adalah apa (pendapat) yang ia (seseorang) percayai itu benar mutlak adanya sehingga apa yang seseorang percayai tersebut tidaklah lagi mampu berkembang mengarah pada kebaikan atau taklid adalah percaya pada pendapat orang lain tanpa mengetetahui sumbernya. semua pendapat yang ada di luara pemikirannya dianggap salah.

inilah yang kadang kita perlu rendah hati dengan apa yang kita yakini telah final dan mutlak. misal tentang penafsiran, orang yang berhak menafsirkan suatu ayat jelas tentu mempunyai kriteria ilmu-ilmu yang harus dikuasai. namun pada kenyataannya mereka yang ahli tafsir tetap menghormati ahli tafsir yang lain saat ada perbedaan pendapat tentang ayat yang ditafsirkan, tidak kemudian menganggap perbedaan adalah sebagai permusuhan.

lantas apakah orang yang berbeda pemikiran, berbeda penafsiran dan berbeda keyakinan itu adalah musuh kita dan wajib kita bunuh? tentu saja tidak! lalu pertanyaan selanjutnya adalah apakah kita berhak mengatakan bahwa seseorang yang berbeda keyakinan itu adalah kafir? yang berhak menyatakan kafir pada manusia hanyalah Allah SWT, karena Allah lah yang tahu isi hati manusia.

Cak Nun pernah berkata bahwa saya saja tidak berani mengatakan bahwa saya muslim. ini dapat juga diartikan bahwa kita belumlah lulus menjadi seorang muslim sejati ketika kita belum menerima raport dari Allah SWT secara langsung. apakah kita yang sudah menganut islam ini bisa kafir? bisa jawabannya! karena definisi dari kafir sendiri adalah berasal dari bahasa Arab yang artinya "menutup".

jika kita memang menutupi sebuah kebenaran maka kita sebagai orang islam tentu bisa kafir, maka harus hati-hati dalam menjalani kehidupan di dunia ini. seperti pesan dari Nabi Muhammad Saw

“Hudzaifah radhiyallaahu ‘anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: sesungguhnya sesuatu yg saya takutkan atas kalian adalah seorang laki-laki yang membaca Al-Qur’an, sehingga setelah ia kelihatan indah karena Al-Qur’an dan menjadi penolong agama Islam, ia merubahnya pada apa yang telah menjadi kehendak Allah. Ia melepaskan dirinya dari Al-Qur’an, melemparnya ke belakang dan menyerang tetangganya dengan pedang dengan alasan telah syirik. Aku bertanya: Wahai Nabi Allah, siapakah di antara keduanya yang lebih berhak menyandang kesyirikan, yang dituduh syirik atau yang menuduh? Beliau menjawab: Justru orang yang menuduh syirik yang lebih berhak menyandang kesyirikan.”
Hadits tersebut diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dalam Shahih-nya, (hadits no. 81), Abu Nu’aim dalam Ma’rifat Al-Shahabah, (hadits no. 1747) dan Al-Thahawi dalam Musykil Al-Atsar, (hadits no. 725). Dishahihkan oleh Al-Albani, dalam Silsilat Al-Ahadits Al-Shahihah, (hadits no. 3201). (http://islamidia.com/ternyata-orang-yang-suka-mengkafirkan-orang-lain-itu-sudah-disebutkan-nabi-muhammad-ini-haditsnya/)
oleh: Ragil Anggara.

Comments